OPINI

ZCD SAPI PERAH DI KABUPATEN ENREKANG PERTAMA DI INDONESIA, PERTAMA DI DUNIA

Dangke sebagai salah satu makanan berkearifan lokal di Kabupaten Enrekang memberi dampak positif bagi pengembangan usaha peternakan sapi perah, karena permintaan yang tinggi akan dangke, maka kebutuhan air susu ternak sapi perah juga akan mengikuti secara linier. Dangke diproses dari air susu sapi yang digumpalkan dengan getah buah pepaya jenis tertentu setelah dimasak. Tetesan getah buah pepaya ini akan membentuk gumpalan air susu dimana 1 buah sangke dihasilkan dari 2,5 liter air susu dengan harga jual sebesar Rp 15.000 di tingkat peternak dan mencapai Rp 25.000 – 40.000 ditingkat konsumen akhir. Dangke dapat dikonsumsi dengan cara dimakan langsung, digoreng, dibuat nugget, dan keripik untuk memperpanjang masa simpan.

Hal inilah yang membangkitkan minat BAZNAS Kabupaten Enrekang mengembangkan Pemberdayaan Peternak Sapi Perah melalui program ZCD sehingga prospek pemasaran dangke dapat mengangkat derajat kehidupan ekonomi muatahik. Kabupaten Enrekang memiliki populasi ternak sapi perah sebanyak 1.500 ekor dan merupakan populasi terbesar di Sulawesi Selatan. sebanyak 18 ekor ternak sapi perah saat ini menjadi ternak yang dipelihara oleh 18 orang mustahik di lingkungan Desa Cendana, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang.

Pengembangan peternakan sapi perah berbasis dana zakat ini merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan didunia sehingga akan menjadi salah satu model implementasi zakat dalam pemberdayaan mustahik. Mustahik yang bergabung di dalam program ZCD ini memerlukan pendampingan sehingga Dinas Peternakan Kabupaten merupakan mitra strategis untuk pengembangan program ini.

Saat ini ada mustahik yang sudah merasakan manfaat memelihara ternak sapi perah. seperti Pak Amirullah yang memiliki produksi dangke sebanyak 4 buah setiap harinya dengan harga per buah Rp 15.000 yang mampu memberikan tambahan nilai ekonomi bagi rumah tangganya disamping keuntungan lain berupa adanya pedet dan kotoran ternak sapi yang akan menjadi salah satu tambahan pemasukan keluarga,

Perlunya peran pendampingan terhadap kegiatan ini adalah pada supervisi beberapa hal, yaitu : konsisensi jumlah dan kualitas pakan, pengamatan dan komunikasi berahi ternak dengan petugas Inseminasi Buatan, pengamatan terhadap kesehatan ternak, dan pengamatan terhadap produksi air susu yang akan berimbas pada jumlah dangke yang dihasilkan. manajemen pengelolaan termasuk yang penting bagi peningkatan kapasitas mustahik selalin pelatihan teknis usaha peternakan.

Eka Budhi Sulistio, BAZNAS Pusat

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baznas Kabupaten Enrekang.

Copyright © 2018-2022 Baznas Kab.Enrekang. Support by Mandarweb.com

To Top